CERITA ANDA

Kekerasan Beragama Lahir dari Situasi Stres

Ketidakadilan ekonomi di kalangan umat Islam ini sebuah fakta.
Kekerasan Beragama Lahir dari Situasi Stres
Choiril Anwar Rohili, Ketua SMI (U-Report)
VIVA.co.id - Radikalisme sering terjadi di tengah-tengah masyarakat yang tidak mendapatkan akses ekonomi. Pengangguran, kemiskinan, kecemburuan orang lemah terhadap orang kaya, sering menjadi pemicunya. Islam saat ini sedang memiliki problem ini karena banyak umat Islam yang berada di lapisan bawah masyarakat.

"Perancis misalnya, sudah menjadi contoh konkret di mana kaum proletariat yang tidak mendapatkan hak ekonomi secara adil akhirnya memakai senjata Islam-fundamentalisme untuk melakukan pemberontakan. Itu soal ketidakadilan ekonomi, bukan semata soal tafsir literal atau karena gejala internal paham agama," demikian pandangan Ketua Sarekat Muslim Indonesia (SMI), Choiril Anwar Rohili pada diskusi Fokus Grup di Jalan Sancang, Kota Bandung, Jumat, 11 Desember 2015.

Menurut Choiril Anwar, ketidakadilan ekonomi di kalangan umat Islam ini sebuah fakta global. Misalnya, data dari hasil Forum Ekonomi Dunia Islam/World Islamic Economic Forum (WIEF) menyebutkan, bahwa mayoritas penduduk muslim yang jumlahnya sekitar 1,2 milyar mengacu data 2004 membuktikan hal itu. Di beberapa negara muslim terutama Timur Tengah kecemburuan ekonomi dirasakan secara langsung. Barat sebagai musuh secara konkret dilawan memakai senjata agama. Tetapi sayangnya, agama Islam yang dipakai itu bukan Islam Ilmiah, melainkan Islam fundamentalisme sehingga geraknya tidak rasional.

Alumni Pesantren Tebuireng itu juga mengatakan kalau di Indonesia masalah ketidakadilan ekonomi sudah jelas. Beberapa data dibuktikan terdapat jurang lebar antara segelintir kelompok kaya dan seabrek warga miskin. Akibatnya banyak pengangguran dan kesulitan ekonomi, sebagian dari mereka lari ke agama dan tertambat pada Islam corak radikal. Senang sekali mereka mendapatkan kegiatan untuk meneriakkan anti Amerika, anti Syiah, anti Ahmadiyah, dan anti siapa saja yang tidak sepaham.

Menurut Choiril, urusan ekonomi bukan satu-satunya pendorong radikalisme. Sebab sebagian dari elit penggerak Islam radikal yang rata-rata berkemasan jubah kearab-araban itu mapan secara ekonomi. Tetapi karena elit penggerak itu butuh umat, maka mereka butuh anak-anak yang mudah diarahkan, mudah diindoktrinasi.

“Kalau mereka mengorganisir santri yang memiliki pemahaman agama secara matang tentu sulit dilakukan karena ada sikap kritis. Tetapi bagi golongan bawah yang sengsara secara ekonomi dan tidak memiliki dasar keagamaan yang kuat, indoktrinasi lebih mudah dilakukan. Itulah yang kemudian kita lihat mereka sering demo dengan isu-isu seperti penistaan agama, syirik, dan lain-lain,” terangnya.

Solusi mengatasi radikalisme agama, termasuk kriminal secara umum, sebenarnya harus kuat dalam mewujudkan keadilan ekonomi. Menurutnya, Kalau kue pembangunan tidak merata sampai ke sektor-sektor kaum proletariat yang rawan menjadi kriminal swasta atau kriminal berbaju agama, maka bisa saja negara ini terus mengalami ancaman konflik serius. Mumpung belum banyak masalah, Pemerintahan Jokowi harus serius mengatasi masalah ini.

Agar radikalisme agama tidak merusak ruang publik politik nasional, Choiril secara khusus berpesan agar pemerintah menggali kelompok-kelompok radikal agama untuk ditolong ekonominya.

"Kasih pekerjaan supaya mereka punya kesibukan yang produktif, sehingga tidak bergiat ekonomis menunggu instruksi penggeraknya melalui demo-demo. Kalau perlu dibiayai masuk pesantren yang moderat agar mereka produktif menjadi guru ngaji atau mengabdi pada urusan sosial," sarannya. (Cerita ini dikirim oleh Haris Azami, Bandung)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...