CERITA ANDA

Pahlawan Itu adalah Ayahku

Kini Pak Kris hanya berharap kedua anaknya menjadi anak yang sukses.
Pahlawan Itu adalah Ayahku
Ilustrasi, Ayahku Pahlawanku (U-Report)

VIVA.co.id - Pagi itu, kereta commuterline tujuan Tanah Abang tampak ramai berdesakan seperti hari biasanya. Jangankan mendapat ruang untuk berdiri, untuk bernapas pun kadang sulit. Namun, seorang pria dengan kemeja biru tampak berlari tergopoh-gopoh agar bisa menaiki kereta yang jumlah penumpangnya terlihat melebihi kapasitas tersebut.

Tak peduli dengan sesaknya gerbong, pria itu memaksa dirinya untuk masuk ke dalam kereta agar tidak terlambat untuk masuk kerja. Ketika kereta telah sampai di stasiun tujuan, pria itu melanjutkan perjalanannya dengan bus kopaja tujuan Kampung Melayu. Ya, lokasi kantor yang serba tanggung membuatnya harus menaiki moda transportasi lain selain kereta. Walaupun tak jarang di bus tersebut penuh sesak dan banyak orang yang kehilangan barang miliknya karena tangan-tangan nakal sang pencopet, namun ia tidak bisa memilih cara lain.

Kemeja yang awalnya berwarna biru muda berubah menjadi lebih tua karena peluh keringat yang mengalir di sekujur punggungnya. Badannya yang mulai renta membuatnya tak lagi bisa berdiri tegak sempurna. Syukurlah, ia masih bisa melalui semua itu setiap hari dengan hati yang ikhlas sehingga membuatnya tak merasa semua itu menjadi beban.

Lokasi tempat tinggalnya yang terbilang jauh dari kantor, dan kondisi jalanan ibukota yang macet, serta kondisi tubuh yang tidak cukup kuat menjadi pertimbangannya untuk tidak membawa kendaraan pribadi. Selain itu, biaya bensin juga bisa dipangkas untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Pria berkemeja biru itu bernama lengkap Ahmad Kristiono, merupakan ayah dari dua orang anak serta seorang suami dari Diah Rita Listiowati, ibu yang telah mengandung saya selama sembilan bulan di dalam rahimnya.

Ayah lahir 53 tahun silam dan sehari-harinya bekerja sebagai karyawan pada sebuah bank BUMN di kawasan Jakarta Pusat. Menurutnya, pekerjaan tersebut sudah ia lakoni sejak tahun 1982. Sehari-harinya, Pak Kristiono bekerja untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga sarjana dan juga menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Penghasilannya memang tidak terlalu besar, namun Pak Kristiono telah berhasil menyekolahkan anak sulungnya hingga mencapai gelar sarjana.

Pekerjaannya yang membutuhkan keakuratan dan kecepatan membuatnya harus menjadi pribadi yang teliti. Karena melayani nasabah dengan sepenuh hati merupakan motto dari perusahaannya, sehingga menuntut setiap karyawannya harus bekerja giat, tak peduli harus pulang larut malam demi menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik dan sempurna.

Kini masa pensiun telah menanti di depan mata, namun tanggungan untuk membiayai kuliah si bungsu masih ada. Impiannya untuk pergi ke tanah suci bersama sang istri pun harus ditunda sampai seluruh tanggungan selesai. Pekerjaan berat yang menuntutnya berada dalam ruangan berpendingin udara selama 9 jam berturut-turut membuat ia harus menderita penyakit Bell's Palsy selama empat bulan belakangan ini.

Penyakit Bell's Palsy adalah penyakit saraf yang mengenai saraf wajah, menyebabkan kelumpuhan otot-otot salah satu sisi wajah, sehingga wajah menjadi asimetris, karena salah satu sisi wajah tampak melorot. Hanya salah satu sisi wajah penderita saja yang dapat tersenyum, dan selain itu, hanya satu mata saja yang dapat menutup dengan sempurna. Beruntunglah semua biaya rumah sakit telah ditanggung oleh perusahaan tempatnya bekerja, sehingga hal itu tidak menjadi beban tambahan untuknya.

Kini, Pak Kris, begitu ia disapa, sedang berpikir bagaimana menyiapkan modal untuk usaha rumah makan yang akan didirikannya pasca pensiun nanti. Mengapa ia memilih bekerja lagi? Mengapa ia tidak memutuskan untuk beristirahat saja di rumah sembari menghabiskan hari tuanya.

"Kalau nanti sudah pensiun kan sudah ngga punya penghasilan lagi. Kalau masih kerja kan masih dapat gaji, masih dapat bonus, masih dapat THR. Nah, kalau nanti sudah di rumah siapa yang mau ngasih duit. Duit yang ada itu diputer, supaya duit itu jangan berkurang kalau bisa semakin bertambah. Paling ngga buat ongkos mondar mandir sana sini, buat ngasih anak cucu," ujarnya.

Takdir hidup sudah digariskan. Kini Pak Kris hanya berharap kedua anaknya menjadi anak yang sukses, pribadi yang saleh dan salehah dan berbakti sampai akhir hayatnya saja sudah cukup. Ia juga tidak menjadikan pekerjaannya sebagai beban, namun menganggap semua yang dilakukan atas dasar ikhlas akan terasa lebih ringan.

Dia hanya berharap supaya kedua anaknya berbakti kepada agama dan orangtua, menjadi anak-anak yang taat, diberikan kesuksesan, dan selalu dilancarkan rejekinya agar kelak menjadi anak-anak yang berguna. Semoga jerih payahnya selama ini bermanfaat untuk keluarga terutama untuk anak-anak ke depannya. (Cerita ini dikirim oleh Niken Faranisya)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...