CERITA ANDA

Menariknya Kegiatan Pelatihan Kader Lanjutan PMII Bandung

Penulis memiliki tanggungjawab penuh terhadap apa yang ditulis
Menariknya Kegiatan Pelatihan Kader Lanjutan PMII Bandung
Pelatihan Kader Lanjutan PMII Bandung (U-Report)
VIVA.co.id - Faiz Manshur menilai kebanyakan kalangan muda Islam di Indonesia masih menjadi konsumen dalam urusan literasi, sementara perkembangan media massa sangat cepat dan meluas. Karena itu harus ada usaha untuk partisipasi yang cepat dari warga, terutama para aktivis pergerakan.

Tujuan partisipasi ini agar masyarakat tidak sebatas jadi konsumen berita, melainkan jadi bagian dari produsen atau aktor. Demikian salah satu poin pernyataan Faiz di hadapan peserta Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Badan Diklat, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 4/12/2015.

Menurut penulis dan pemikir kajian Civic Islam ini, para aktivis mahasiswa seyogyanya tidak hanya dituntut menjadi pembaca media online melainkan harus mahir menulis, mengelola surat kabar, dan bahkan ke depan harus memikirkan kepemilikan media.

Menurutnya peran strategis media massa atau pewartaan itu bukan karena booming online. Sejak zaman lampau, media pewartaan menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia. Peranannya mampu menjadi kekuatan dalam percaturan politik, dan media massa kita masih kurang untuk menjawab kebutuhan sekian juta penduduk. Karena itu sangat penting peranan pendirian media lokal untuk pencerahan warga.

Faiz mengambil salah satu contoh bagaimana teks-teks kitabiah memainkan peranan komunikasi dalam mewartakan pesan-pesan kebaikan, pesan politik, dan pesan sosial sehingga terjawab mengapa tulisan menjadi penting di kemudian hari karena terdapat fakta agama-agama samawi seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam terus eksis keberadaannya.

Ada ratusan ribu agama-agama yang tumbuh sepanjang evolusi peradaban. Tetapi yang langgeng dan kuat memiliki pengaruh hanya sedikit, dan itu yang memiliki catatan berupa kitab. Agama yang bergantung pada lisan banyak yang runtuh. Dengan kata lain, survive-nya sebuah ajaran juga tumbuh di atas evolusi akal budi karena memang secara sunnatullah evolusi manusia sekarang bergerak pada garis akal budi, bukan lagi evolusi fisik.

Dikatakan pula, penguasaan media massa menjadi sangat penting bagi kelangsungan organisasi terutama organisasi pergerakan. Bahkan, menurut Faiz saat ini banyak organisasi kecil yang kuat mempengaruhi banyak orang bukan karena jumlah massanya, melainkan karena kemampuan menebarkan virus akal budi dalam ruang publik.

"Soal apa yang disampaikan itu memang urusan lain. Lepas dari kualitas keilmuan atau nilai-nilai yang disebarkan, yang jelas pengaruh literatur sangat kuat, digandakan secara massal. Bahkan baik-buruknya pemikiran manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana kelompok tersebut mengusung pewartaan dalam literatur. Jadi, kalau aliran-aliran ekstremisme itu kita anggap ancaman karena mengajak pada keruntuhan peradaban, maka kita yang sadar akan pentingnya peradaban tentu harus aktif memainkan media massa," jelasnya.

Literatur virtue

Mengingat literatur sangat menentukan peradaban umat manusia, maka para penulis punya tanggungjawab penuh terhadap apa yang ditulis. Karena itu para penulis juga harus kuat ilmu, kuat teori, dan tentu saja butuh keutamaan moral atau virtue ethics.

Sebagai warga yang hidup dalam republikanisme, gerakan partisipasi citizen, bukan hanya mengejar ketaatan pada moral, melainkan harus menekankan moral dengan keutamaan, atau virtue. Itulah bedanya antara moral dan virtue, persis seperti perbedaan antara akhlak versus akhlakul karimah. Moral bukan sebatas sopan santun tapi harus mengarah ke jalan proses pemberadaban yang antara lain memuat semangat pencerahan keilmuan, rasionalitas, visioner dan karakter.

Sebagai warga negara yang sepakat dengan garis pendiri negara bangsa, maka di situlah peranan kelompok muslim harus juga mengawal demokrasi dengan prinsip keislaman sekaligus keindonesiaan yang selaras dengan tanggungjawab hak hidup warga melalui prinsip-prinsip pemikiran yang terbuka dan selalu bersemangat membangun keindonesiaan yang lebih beradab.

"Jangan memanfaatkan pewartaan untuk alat kejahatan politik, menyerang pihak yang berbeda, bukan pula pewartaan yang sifatnya untuk membuat mensosialisasikan pendirian negara Islam. Jurnalis yang baik adalah jurnalis yang sadar sebagai warga dan juga sadar pentingnya kelompok masyarakat sipil serta punya semangat partisipatif memberi kontribusi, bukan sekadar menuntut atas aspirasinya," jelas Faiz. (Tulisan ini dikirim oleh Ferlita Husain – Unisba, Bandung)
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...