CERITA ANDA

Ketika Sahabat yang Dipercaya Mulai Mengkhianati

Aku merasa kepercayaan itu seperti dibuat hancur oleh mereka.
Ketika Sahabat yang Dipercaya Mulai Mengkhianati
Ilustrasi sahabat (http://indowebby.com)

VIVA.co.id - Perkenalkan, nama aku Bella. Cukup panggilan saja, karena menurut teman-teman di sekitarku, nama lengkap aku itu kepanjangan. Seperti kereta api.

Di sini aku ingin berbagi cerita, tentang sebuah kepercayaan. Saat ini aku berstatus mahasiswa di Universitas Mercubuana, jurusan Akuntansi.

Cerita ini berawal ketika aku masuk kuliah pertama kali. Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah pernah aku alami sebelumnya. Tapi aku coba untuk melupakan semua itu dan membuka lembaran baru.

Aku masuk di Universitas Mercubuana, Kranggan, bersama teman dekatku. Sebut saja Oca dan Fajar. Mereka temanku dari sejak kecil. Oca adalah temanku dari TK, SD, SMA. Kuliah pun satu kampus, walau beda jurusan. Fajar adalah temanku dari SD, dan berkomunikasi lagi saat SMA dan sekarang kuliah satu jurusan, bahkan satu kelas dengan aku.

Pertama kali pertemuan MABA aku datang bersama Oca. Saat pertemuan itu, datanglah teman lainnya, Tasia. Kami bertiga di pertemuan MABA seperti orang yang paling rusuh, super ribet, ditambah acara sambutan-sambutannya yang bikin kami ngantuk.

Hari itu pun berlalu. Hari demi hari, aku, Tasia, dan Fajar selalu bertiga. Datang ke kampus dan di kelas pun kami bertiga. Semakin hari mulai berbaur, berbaur dengan yang lainnya. Di kelas Akuntansi ada kurang lebih sekitar 50 orang, dan kami mencoba berbaur dengan semuanya.

Semakin lama semakin kami berbaur. Aku dan Tasia merasa lebih nyaman dan lebih asyik. Lebih seru lagi karena kami mulai bermain bersama Yola, Muzai, Siska, Nina, Loli, dan Hana Nada. Sampai pada suatu hari kami berkumpul di tempat makan, di samping kampus dan memberikan nama kelompok kami secara spontan, yaitu “Gibahaluan”. Entah didapat dari mana nama itu.

Semakin hari semakin berjalannya waktu, semakin tahu dan mengenal antara satu sama lain. Sifatnya seperti apa, luar dalamnya seperti apa, kami sudah tahu. Dan aku pun merasa lebih sejalan pemikirannya dengan Nina, sehingga membuat aku lebih dekat dengannya.

Aku banyak belajar dari semua ini. Dari awal masuk kuliah, aku sudah mulai mempercayai teman-temanku. Tapi entah kenapa aku merasa kepercayaan itu seperti dibuat hancur oleh mereka.

Entah hanya perasaan aku saja atau memang benar. Oh iya posisi aku saat itu sudah mempunyai teman dekat laki-laki (pacar). Aku juga sering curhat semuanya sama pacarku dan Bundaku. Lebih seringnya aku curhat sama Bunda.

Bunda tahu semuanya tentang kehidupan aku di rumah, di luar rumah, di kampus, sampai semua teman-teman aku, Bunda tahu. Aku terbuka sekali sama Bunda, kalo ada apa-apa aku selalu curhat sama Bunda.

Di saat aku merasa anak Gibahaluan seperti bosan dengan kegiatan kami yang gini-gini saja, akhirnya mereka mulai bergabung dengang kelompok cowok-cowok yang di kelas. Awalnya aku biasa saja, hingga sampai ada "something", jadi aku lebih sering jaga jarak dengan mereka.

Apalagi status aku sudah mempunyai pacar, setidaknya aku harus menjaga perasaan pacar aku sendiri. Nah, dari sinilah aku merasa seperti jauh dengan mereka. Karena sekali dua kali, aku dan Nina tidak ikut kumpul bareng gara-gara “krismon”, yaa biasalah anak kuliahan. Hehehe..

Dari sini aku berpikir, mereka itu sebenarnya teman aku atau bukan? Aku mempunyai "something" dengan orang yang mereka dekat juga. Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran mereka seperti apa. Kalau mereka memang benar-benar teman aku, mereka pasti mengerti posisi aku di situ bagaimana. Tapi mereka seperti tidak peduli, dan hanya mendengarkan satu kata orang saja. Ini yang aku paling aku tidak suka.

Lalu, tidak lama aku mengetahui kalau mereka membuat sebuah perkumpulan atau grup tanpa aku. Dan sampai sekarang, aku dan Nina merasa kalau kami sudah mulai jauh dengan mereka. Aku dan Nina juga sering berpikir kalau kami pasti diomongin oleh mereka.

Dari sini aku berpikir, apakah salah aku mempercayai orang yang aku sayang? Kenapa setiap aku mulai percaya dengan orang, pasti ada saja kejadian yang membuat aku tidak percaya lagi dengan mereka. Atau mungkin ini semua hanya perasaanku saja?

Di sini aku belajar agar aku tidak semudah itu mempercayai orang. Karena tidak semua orang yang diberi kepercayaan akan selalu menjaganya. (Cerita ini dikirim oleh Farisa Isabella Agustine – Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...