CERITA ANDA

Ada Sosok "Kembaran" Ibu di Rumah Kosong Itu

Mukanya tidak terlihat karena posisinya memunggungi ibu.
Ada Sosok "Kembaran" Ibu di Rumah Kosong Itu
Rumah kosong. (VIVA.co.id/MZ Abidin)

VIVA.co.id - Doppelganger berasal dari kata Jerman yang berarti "Double Walker". Istilah ini digunakan untuk merujuk kepada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia di bumi ini. Fenomena ini berbeda dengan penampakan hantu. Jika penampakan hantu, berarti seseorang melihat citra orang yang telah meninggal, maka fenomena doppelganger berarti melihat bayangan seseorang yang masih hidup.

Kejadian doppelgangger seperti itu pernah dialami oleh ibu saya. Suatu ketika ibu sedang membersihkan rumah kosong, tepatnya persis di seberang rumah kami. Rumah itu tidak benar-benar kosong, beberapa furniture sudah tersedia hanya saja tidak pernah kami tempati. Sesekali hanya digunakan untuk ngumpul-ngumpul rekan-rekan kami atau jika ada saudara jauh yang datang bisa memakai rumah ini untuk beristirahat.

Hari Minggu pagi, ibu sudah bersiap untuk bersih-bersih. Sebuah sapu ijuk di tangan kiri, dan kemoceng dikempit di kiri. Sementara tangan kanannya memutar kunci untuk membuka gembok rumah depan. Hari libur begini selalu dipakai ibu untuk bersih-bersih, karena di hari lain ibu selalu sibuk oleh pekerjaannya.

Meski jarang ditempati, Ibu selalu rutin membersihkan rumah depan. Mulai dari pekarangan yang selalu penuh dengan dedaunan, debu-debu halus di sela furniture, hingga tempat cuci yang berada di taman belakang. "Jika ada tamu mendadak kan tidak perlu buru-buru membersihkannya." Begitu kata Ibu jika ditanya kenapa rajin membersihkan rumah itu.

Rumah itu dibeli oleh orang tua saya 5 tahun yang lalu, sebagai investasi, kata ayah saya. Pemilik rumahnya yang terdahulu pindah ke luar kota. Yang kami suka dan dari rumah itu adalah pekarangannya yang luas, tidak seperti rumah yang kami tempati. Pemilik terdahulu tampaknya lebih suka rumah dengan bangunan yang mungil dan dikelilingi oleh pekarangan.

Sebuah pohon jambu yang lebat dan berbuah manis menambah nilai plus rumah itu. Tidak jarang saya dan ibu berburu buah jambu sekali waktu. Tepat di bawahnya kami mendirikan sebuah ayunan besar. Di situlah saya biasa ditemui sambil membaca buku atau bercakap dengan teman-teman.

Pagi itu ibu saya fokus membersihkan gudang yang letaknya di samping taman belakang. Jadi jika ingin ke gudang, kita harus melewati taman belakang terlebih dahulu. Tidak lama asisten rumah tangga kami datang untuk membantu ibu.

Karena membutuhkan lap ekstra untuk bersih-bersih, ibu saya menyuruh asisten untuk mengambil beberapa lap bersih dari rumah. Sementara itu ibu saya pindah sejenak ke ruang keluarga untuk merapihkan beberapa pajangan di atas meja. Asisten tidak kunjung kembali, mungkin kesulitan untuk mencari di mana lap bersih, maklum usianya sudah tua. Kemudian ibu beranjak dari ruang keluarga menuju gudang. Namun, belum sampai taman belakang, langkah ibu tertahan.

Sosok wanita berambut pendek dan memakai daster panjang berada di taman belakang. Mukanya tidak terlihat karena posisinya memunggungi ibu. Sosok itu hanya berdiri dan diam saja seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Perawakan dan dari gayanya berbusana persis sekali seperti ibu. Ya, dia seperti kembaran ibu. Setahu ibu dia tidak memiliki kembaran. Jadi, siapa wanita itu? Bulu kuduk pun merinding.

Ibu yang tampaknya tidak terlalu penasaran dengan sosok itu, malah memilih lari dari rumah itu dan berteriak memanggil asisten saya. Sampai di rumah, ibu mencari asisten kami, betul saja dia masih sibuk mencari lap bersih.  Ibu sudah tidak mood untuk melanjutkan bersih-bersih. Semua peralatan bersih-bersih masih dia tinggal di sana, dan menyuruh asisten kami untuk mengambilnya. Ibu juga menyuruh untuk mengunci pintunya kembali.

Ibu memang dikaruniai "bakat" yang orang biasa tidak peroleh. Tidak sekali dua kali ibu diperlihatkan oleh sosok misterius, apapun bentuknya. Ibu sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi baru kali ini ibu diperlihatkan oleh sosok yang persis sekali seperti dirinya. Selama berhari-hari ibu masih ketakutan dan selalu urung untuk datang ke rumah itu lagi. (Cerita ini dikirim oleh Citra, Jakarta)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...