CERITA ANDA

Suka Duka Kuliah di Perantauan

Bahasa membuat kita merasa tidak nyaman dalam berkomunikasi.
Suka Duka Kuliah di Perantauan
Ilustrasi (News.com.au|Supplied)

VIVA.co.id - Anak rantau, identik dengan seseorang yang susah bergaul atau bisa dikatakan susah mencari teman di daerah rantau. Begitulah yang saya dan teman-teman sedaerah rasakan. Mungkin teman-teman yang dari luar Pulau Jawa merasakan hal yang sama ketika berada di Pulau Jawa, khususnya yang di Bandung. Saya katakan begini karena berdasarkan pengalaman yang saya alami.

Berhubungan sosial adalah tugas berat yang harus dilalui mahasiswa rantau. Kenapa kita, 'anak rantau' susah bergaul dengan anak-anak asli daerah tempat kita kuliah atau yang kita kenal dengan sebutan "Akamsi" (Anak Kampung Sini). Kesulitan yang dihadapi pertama adalah Bahasa. Meskipun dalam sumpah pemuda sudah dikatakan berbahasa satu Bahasa Indonesia, tapi kenyataannya orang daerah asli tempat kuliah tersebut, kebanyakan mereka menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa membuat kita merasa tidak nyaman dalam berkomunikasi. Maka dari itu jangan ditanya kalau anak rantau bergaul hanya dengan teman daerahnya atau dengan teman-teman senasib dengan mereka (sesama anak rantau). Kita bukannya tidak mau bergaul dan sebenarnya kita bisa berkomunikasi dengan mereka, tapi setiap kita mau memulai perbincangan baru kebanyakan dari mereka tidak ada respon balik ke kita yang menandakan bahwa mereka itu suka bergaul dengan kita.

Dan satu hal yang saya alami adalah jika kita tidak mau memulai perbincangan duluan, maka mereka juga akan cuek ke kita. Terus nasib kita mau gimana lagi? Mungkin mereka berpikir untuk bergaul dengan kita dari rantau adalah hal yang tidak bermanfaat, tidak menguntungkan, dan berbahaya bagi mereka. Ada salah satu anak rantau, dia terlihat akrab dengan teman-teman yang lainnya. Tetapi sayang, dia akrab dengan mereka karena dia selalu menjadi korban bully teman-temannya.

Jadi begitu, kita anak rantau, jika tidak bermanfaat untuk mereka maka mereka tidak mau bergaul dengan kita-kita. Tiga bulan sudah saya lalui hidup di rantau. Banyak suka dan duka saya alami. Tapi ini belum seberapa, karena Perjalanan masih sangat panjang untuk dilalui.

Sukanya, kita anak rantau lebih mengerti apa itu kehidupan yang sebenarnya. Kita anak rantau dituntut untuk menjalani kehidupan mandiri. Modal utama untuk melewati hal ini adalah mental. Percayalah, kalau tidak menyiapkan mental yang kuat maka kuliah di rantau tidak akan bertahan lama.

Yang enaknya kuliah di rantau adalah kita bebas melakukan hal apa saja termasuk bebas untuk tidak belajar. Tetapi saya selalu ingat, tugas utama kuliah di rantau adalah untuk belajar. Mudah-mudahan saja tidak akan terlalu santai lalu mengabaikan kewajiban karena hidup terlalu bebas.

Dukanya, ya itu tadi. Susah bergaul, susah nyari makan, awal bulan makan enak, pertengahan makan mie, akhir bulan ngutang. Tetapi saya bangga, karena saya sudah satu langkah lebih maju daripada mereka yang tidak merantau.

Saya sudah bisa belajar untuk hidup mandiri di usia saya yang masih terbilang muda. Meskipun masih dapat dukungan dana dari orang tua, tapi paling tidak saya sudah belajar untuk menjalani kehidupan seorang diri dan bisa menjadi bekal buat kedepannya nanti. (Cerita ini dikirim oleh Rizaldy Halid)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...