CERITA ANDA

"Bawahan" yang Nyaman

Ketimbang celana, sarung memang lebih simpel dikenakan.
"Bawahan" yang Nyaman
Ilustrasi celana (http://tersangatunik.blogspot.com)

VIVA.co.id - Saya tidak sedang ingin berbicara mengenai pekerjaan. Bawahan dalam konteks ini bermakna pakaian yang dikenakan menutupi area pinggang ke bawah. Saya hanya memiliki tiga buah celana jeans yang digunakan sebagai bawahan, dengan atasan kemeja, atau jika tak sedang dalam suasana formal, bisa dipadukan dengan t-shirt. Selain celana, saya biasa bersarung. Akhir-akhir ini bahkan lebih sering.

Saya hidup di sebuah lingkungan yang menjadikan sarung sebagai pakaian umum, sehingga celana, utamanya jenis jeans, lebih kerap dilemarikan. Suatu hari, saya iseng menghitung jumlah sarung yang saya punya. Lumayan, ada dua puluh dua lembar. Kebanyakan merupakan hadiah dari orang-orang. Tidak sampai setengahnya bahkan yang saya beli sendiri.

Ketimbang celana, sarung memang lebih simpel untuk dikenakan. Tidak serumit kaum hawa yang membutuhkan penuntun untuk sekadar membungkus kepalanya, pengguna sarung tidak mengenal istilah "tutorial sarung". Tinggal masukkan kedua kaki, lipat kiri, lipat kanan, gulung, selesai. Hanya kadang kala kalau ingin tampil lebih serius, "sarungers" harus memperhatikan letak jahitan tengah yang harus disembunyikan dalam lipatan depan, serta center of prime pattern yang letaknya di (maaf) bokong.

Tapi sekali lagi, itu semua tidak begitu penting, kecuali sarungmu bermerk BHS yang harganya jutaan rupiah itu. Sebagian orang yang memang berniat memamerkannya, sengaja mengatur letak logo BHS itu di arah jam satu atau jam sebelas, bukan di belakang sejajar dan selurus (maaf) bokong.

Ngomong-ngomong soal sarung, sering kali pembicaraan bertaut dengan hal saru. Bagi sebagian orang (laki-laki), hal saru adalah hal seru. Seperti istilah "Gajah Duduk melindungi burung tidur" atau "Angkat sarung, serang, sorong!". Demikian beberapa contoh, dan begitulah mengapa sarung sering disebut dan diakronimi sebagai sangkar burung. Ckckck

Saya sedang duduk di sebuah foodcourt di daerah Tunjungan, Surabaya, menunggu seseorang dalam keadaan gelisah. Kegelisahan itu tidak diakibatkan oleh laku menunggu, tapi lebih karena celana saya rasanya sudah tidak pas, agak sempit, sehingga sambil mengetikkan ini beberapa kali saya membetulkan letak duduk agar area (maaf) bokong terasa nyaman. Yang saya kenakan ini memang celana lama, tua, sempit, dan pudar.

Warna birunya sudah bergerak bergradasi menghampiri putih, utamanya daerah paha dan lutut. (Salah satu tips menjaga agar warna celana awet dan tidak mudah pudar adalah dengan membeli mobil. Sayang, yang ini agak sulit bagi saya). Celana yang satu lagi sudah sobek di bagian lututnya, sehingga merepotkan jika saya hendak salat. Apalagi jika bepergian seperti ini, harus bawa sarung, buah tangan dari seorang sahabat yang pernah bekerja di negeri jiran.

Hanya satu celana yang kondisinya normal, tapi sayang sekali tidak nyaman dikenakan. Saya dulu membelinya karena yakin bahwa merek terkenal ini enak dipakai, terbukti dari sweater dan backpack saya yang umurnya sudah hampir lima tahun. Tapi ternyata tidak berlaku pada celana ini. Bahannya kaku, tidak senyaman yang sobek itu.

Saya tadi berangkat buru-buru, tidak sempat membawa buku bacaan. Tidak ada kegiatan membunuh waktu, terpaksa nulis-nulis nggak jelas sambil menunggu feedback like and comments, meskipun tulisan ini sangat tidak pantas untuk dijempoli.

Hanya gara-gara bawahan yang sempit, dan ketidakinginan memikirkan pekerjaan, saya kemudian ngoceh ngalor ngidul lewat tulisan. Sialnya, untuk mendapatkan solusi terhadap kenyamanan berpakaian yang dalam hal ini berarti harus membeli celana baru yang berarti saya harus memindahkan kata "bawahan" dari konteks pakaian ke konteks pekerjaan.

Terpaksa pusing lagi, membayangkan seorang bawahan yang sedang harap-harap cemas menunggu kabar PHK dari perusahaan yang konon melakukan perampingan akibat terkena imbas krisis global. Rasanya ingin lari dan masuk sembunyi ke dalam sarung. Nasib... nasib...(Cerita ini dikirim oleh Hadi Firmansyah, Surabaya)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...