CERITA ANDA

Kejamnya Dirimu Membunuhku Perlahan-lahan

Setiap tahun jumlah perokok di Indonesia terus meningkat.
Kejamnya Dirimu Membunuhku Perlahan-lahan
Ilustrasi rokok (suara.com)

VIVA.co.id - Malam yang dingin di sebuah kota mahasiswa yaitu, Darussalam, Banda Aceh, aku duduk santai sendiri menatap layar televisi dan sebelumnya telah memesan kopi. Mataku hanya terkonsentrasi pada layar kaca televisi yang sedari ba'da Magrib tadi dihidupkan oleh si empunya kedai.

Lalu lalang pelanggan tak kuhiraukan karena terlalu fokusnya terhadap acara di layar kaca televisi. Tiba-tiba saja, muncul pemuda yang kira-kira berumur 30-an ke atas dan duduk tepat di depanku. Awalnya tidak ada sesuatu yang mengganjal dari orang tersebut. Namun, kemudian pemuda tersebut merogoh saku celananya, mengeluarkan satu bungkus rokok serta dengan santainya membakar dan menghisap rokok tersebut.

Menyebarlah asap rokok ke seluruh ruangan kedai tersebut. Tidak sengaja menghirup. Aku pun terbatuk-batuk dan menutup hidungku karena asap tersebut, karena aku bukanlah seorang perokok.

Ingin rasanya mengatakan kepada pemuda tersebut untuk tidak merokok sembarangan, namun apa daya muncul lagi orang yang sama dengan rokok yang sama tepat disampingku. Kontan saja aku pergi ke pemilik kedai, membayar kopi, kue dan langsung pergi dari kedai tersebut.

Sejauh ini, oleh WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia pada urutan 28 negara pengkonsumsi rokok di dunia. Bukan suatu hal mengkhawatirkan, mengingat urutan pertama diduduki oleh Serbia. Namun fakta yang terjadi di lapangan adalah begitu banyaknya pengkonsumsi rokok, mulai dari supir angkot sampai anak SMP dan SMA yang terpantau oleh penulis sendiri.

Mereka semua terbiasa merokok dengan santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Padahal telah ada larangan tegas pada bungkus rokok tersebut, namun masih saja tidak dihiraukan. Entah apa sebabnya, namun yang pasti itu akan membunuh kami secara perlahan-lahan yang menjadi pelaku perokok pasif. (Cerita ini dikirim oleh Wiwin Rinaldi H - Banda Aceh)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...