CERITA ANDA

Membangunkan Jiwa Pahlawan Masa Kini

Pemuda sebagai elemen kaum intelektual dan aset masa depan.
Membangunkan Jiwa Pahlawan Masa Kini
Monumen Pahlawan (http://jejakbocahilang.files.wordpress.com/2013/12/monumen-mayor-achmadi.jpg)

VIVA.co.id - “Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”- Mohammad Hatta

Embun pagi masih melekat di setiap permukaan dedaunan pada satu pagi, tanggal 10 November 1945 tepatnya. Belum juga hilang semangat para jama’ah shalat subuh yang berjalan kembali ke rumahnya dari langgar dan surau. Namun, kesejukan tersebut tiba-tiba menjadi hilang menyusul bergeloranya perlawanan para kaum muda terhadap serangan pasukan Inggris yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris kemudian membombardir Kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat.

Upaya penyerangan tersebut di luar dugaan pihak Inggris yang menganggap bahwa Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari. Di Surabaya, ada para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat yang terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Bukan hanya dari tokoh pemuda saja, tetapi kalangan alim ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan.

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh Kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa kedatangan pasukan Inggris tersebut menjadi peristiwa heroik yang hingga hari ini kita namai dan peringati sebagai Hari Pahlawan. Tepat sudah 70 tahun berlalu, angka yang sama dengan usia kemerdekaan Republik yang kita cintai, Indonesia. Spirit perjuangan itu sedang mengalami letargi. Imajinasi, kehendak, dan gagasan-gagasan besar tentang keindonesiaan selalu berakhir tragis seperti aborsi. Ide besar pembentukan republik seolah menjumpai generasi kerdil.

Memaknai Kembali Jiwa Kepahlawanan

Selama ini Hari Pahlawan tetap diperingati sebagai upaya menjaga semangat militansi rakyat Indonesia dalam menjaga kesatuan serta harkat dan martabat Republik Indonesia. Sang Proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno dalam sebuah pidatonya saat memperingati Hari Pahlawan pada tahun 1961 mengumandangkan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...